Talingaan Aru, Tradisi Unik Suku Dayak Kayan

talingaan aru

Sahabat adat pernah dengar ataupun melihat telinga manusia yang panjang terjuntai-juntai?, Nah, kalau belum artikel adatkita.com kali ini akan membahas tradisi unik dari suku dayak kayan, yaitu Talingaan Aru.

Memanjangkan kuping (telinga) mungkin terdengar aneh bagi sahabat adat, akan tetapi menjadi tradisi turun temurun bagi suku dayak  Kalimantan.  Meskipun sebenarnya tidak semua suku dayak melakukannya, tapi tradisi ini sudah melekat dengan masyarakat dayak umumnya.

Kampung Bena Baru merupakan kampung pedalaman suku dayak yang masih melestarikan tradisi ini. Dibuka pada tahun 1980-an, Kampung bena baru terletak d/sungai kelay, kecamatan sambaliung. Penghuninya sekitar 700 jiwa penduduk. Kehidupan masyarakat kampung barru masih berjalan berdampingan dengan tradisi dan kultur lokal, bahkan lengkap dengan upacara adat dan tari-tarian khasnya. Dikampung ini masih memiliki sekitar 20-an orang yang memiliki telinga cuping panjang.

Baca Juga: Upacara Unik, Tradisi Naik Dongo

Ternyata, daun telinga cuping panjang tidak hanya d/peruntukkan bagi wanita saja, akan tetapi juga untuk para laki-laki. Wah, bisa bayanginkan sahabat adat, kalau kita panjangkan daun telinga?

Proses Pemanjangan Telinga (Talingaan Aru)

Proses pemanjangan cuping telinga d/mulai sejak bayi. Hal ini umumnya berkaitan dengan tingkatan sosial seseorang dalam masyarakat Dayak. Bagi suku Dayak Kayan misalnya, telinga kuping panjang menunjukkan kalau orang tersebut berasal dari kalangan bangsawan. Sementara bagi perempuan, telinga kuping panjang menunjukkan seorang bangsawan. Tetapi bisa juga menunjukkan sebagai budak karena kalah perang atau tidak mampu membayar utang. Itu bisa d/selidiki prosesnya pada masing-masing suku dayak.

Nah, apa sih alat untuk memanjangkan telinga cuping panjang?

Pemanjangan cuping daun telinga biasanya menggunakan pemberat berupa logam berbentuk lingkaran gelang atau berbentuk gasing dengan ukuran kecil. Dengan pemberat inilah daun telinga nantinya akan terus memanjang hingga beberapa sentimeter.

Uniknya, desa-desa yang ada d/hulu sungai Mahakam ini, telinga cuping panjang  d/gunakan sebagai identitas dan untuk mengetahui umur seseorang.

Begitu bayi lahir, ujung telinganya akan d/beri manik-manik yang cukup berat. Jumlah manik-manik akan bertambah satu setiap tahunnya ketika masuk hari kelahiran. Wah, bisa bayanginkan sahabat adat kalau umur 20 tahun, artinya jumlah manik-maniknya berjumlah 20 tuh. Lumayan beratkan. Tapi itulah salah satu keunikan suku dayak kayan.

Akan tetapi ada juga yang mengatakan tujuan pembuatan telinga panjang bukanlah untuk menunjukkan status kebangsawanan, tetapi justru untuk melatih kesabaran. Jika d/pakai setiap hari, kesabaran dan kesanggupan menahan derita semakin kuat.

Sementara bagi suku Dayak Kayan, antara laki-laki dan perempuan memiliki aturan panjang cuping telinga yang berbeda. Kaum laki-laki tidak boleh memanjangkan cuping telinganya sampai melebihi bahunya, sedangkan perempuan boleh memanjangkannya hingga sebatas dada.

Proses memanjangkan cuping daun telinga ini d/awali dengan penindikan daun telinga sejak masih berumur satu tahun. Gaya anting atau subang perak yang digunakan pun berbeda-beda, yang akan menunjukkan perbedaan status dan jenis kelamin. Gaya anting kaum bangsawan tidak boleh dipakai oleh orang-orang biasa. 

Begitulah keunikan dari suku dayak kayan Kalimantan, semoga artikel ini bisa menambah wawasan sahabat adat sekalian.

Junjung Adat…

Jaga Tradisi…

2 thoughts on “Talingaan Aru, Tradisi Unik Suku Dayak Kayan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *