Purru La Mananga, Tradisi Unik Kampung Kamarru Sumba

purru la

Purru La .Sumba merupakan salah satu daerah yang terletak di Pulau Sumba Nusa Tenggara Timur. Daerah Sumba memiliki rata-rata curah hujan yang sedikit. Hal tersebut menyebabkan masyarakat sumba kesulitan  untuk bercocok tanam.

Hal itulah yang melatar belakangi leluhur masyarakat di kampong kamarru, Desa Tanamanan, Kecamatan Pahungan Lodu Kab Sumba Melakukan tradisi Upacara adat. Upacara adat yang d/lakukan terkenal dengan nama Purru La Mananga, yaitu upacara khusus untuk memohon curah hujan kepada sang pencipta.

Tradisi memohon hujan ini telah terlaksana secara turun-temurun sejak pertama kali leluhur mereka mendiami tempat tersebut. Hal itu d/jelaskan oleh para tokoh adat setempat. Menurut mereka, yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri dari beberapa marga atau kabihu. Kabihu yang terlibat seperti, Kabihu Lakunara, Lurra, Pahada, Kabunu, Kabuling, Maritu dan Hau.

Nah, pasti sahabat adat bertanya bagaiaman sih pelaksanaannya?. Berikut tim adatkita.com akan menjelasakannya:

Dundang

Dundang adalah penetapan hari pelaksanaan. Setelah itu, Wunnang (juru bicara) akan d/utus para tetua adat setelah waktu pelaksanaan ritual d/tetapkan. Juru bicara akan d/berikan tugas untuk menyampaikan kepada masyarakat tentang tradisi yang akan d/laksanakan.

Hama yang di Kampung (Purru La Mananga)

Ama Bokul Hamayang adalah imam/pemimpin ritual yang akan memimpin upacara adat purru la mananga yang akan berlangsung. Upacara adat itu d/laksanakan pada Katoda yang terdapat d/depan Uma Hori, dengan media 1 ekor anak ayam yang baru menetas. Anak ayam merupakan simbol kesucian dan mewakili niat tulus dari masyarakat untuk mengakui kesalahan secara umum.

Setelah itu, akan berlanjut pada prosesi tolak bala yang berlokasi d/luar kampung. Hal ini bertujuan agar prosesi purru la mananga selanjutnya dapat berjalan lancar dan tidak terdapat hal – hal yang menghalangi hubungan dengan Sang Pencipta. Tahap berikutnya adalah Hamayang di rumah adat untuk menyampaikan kepada leluhur bahwa prosesi awal telah terlaksana dan d/iringi dengan memukul gong dan tambur sebagai ekspresi sukacita.

Baca Juga: Tradisi Perjodohan Suku Biak Sejak Kecil

Hamayang di Muara (Purru La Mananga)

Pada keesokan harinya prosesi akan berlanjut d/muara. Diawali dengan hamayang d/katoda bunggur yang bertujuan menyampaikan kepada leluhur bahwa ritual siap untuk d/laksanakan.

Selanjutnya Ama Bokul Hamayang menuju muara untuk memanjatkan mantera adat yang berisi permohonan kepada leluhur untuk d/sampaikan kepada Sang Pencipta.

Permohonan yang ditujukan terutama adalah agar hujan segera turun. Kemudian kembali ke katoda bunggur untuk menyelesaikan prosesi hamayang. Pada saat itu, perwakilan kabihu melakukan ritual mengaku salah sambil mengungkapkan segala kesalahan yang pernah d/lakukan.

Pada saat menyampaikan hal tersebut, mereka mempersembahkan emas yang diiris dan d/masukkan dalam wadah yang disebut Kenoto. Setelah proses ini, d/lanjutkan dengan persembahan hewan kurban sambil mendoakan agar Sang Pencipta berkenan memberkati alam semesta dan segala isinya.

Nah, itulah tradisi unik dari masyarakat kamarru Kabupaten Sumba. Semoga artikel ini bermanfaat untuk para sahabat adat sekalian.

Junjung adat…

Jaga Tradisi….

 

 

1 thought on “Purru La Mananga, Tradisi Unik Kampung Kamarru Sumba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *