Proses Tradisi Upacara Adat NAIK DANGO

proses

Proses Selamat datang kembali sahabat adat di website adatkita.com. Pada artikel ini sahabat adat akan mengetahui secara jelas prosesi tradisi upacara adat naik dongo.

Naik Dango adalah upacara tradisi yang menandakan rasa syukur  Suku Dayak kepada sang pencipta. Pada artikel sebelumnya sahabat adat sudah membacanya gak?, jika belum jangan teruskan membaca, karena akan susah untuk nyambugnya, hehe.

Dalam tradisi nenek moyang Dayak Kanayatn, Naik Dango berawal dari pertemuan antar penduduk d/kampung setelah panen. Pertemuan itu akan d/laksanakan beberapa hari sebelum pelaksanaan ritual dengan tujuan untuk merencanakan pelaksanaan Naik Dango.

Proses Penetapan Hari dan Batutu’

Setelah d/tetapkannya hari pelaksanaan, akan d/lanjutkan dengan Batutu’ yaitu memasak beberapa makanan oleh setiap keluarga sehari sebelum pelaksanaan upacara. Wah, ternyata ada makan-makannya juga sahabat adat, mana nih yang suka makan?? Hehehe

Nah, makanan yang d/masak seperti, beras ketan yang d/masukkan kedalam bambu berukuran besar dan tumpi (semacam roti cucur). Prosesnya kaum perempuan akan menumbuk padi, ketan atau tepung d/dalam lesung. Setelah itu barulah d/masak, dan menyiapkan nasi bungkus pada daun laying/pisang. Kemudian tidak lupa juga d/sediakan ayam yang masih hidup. Wah giman nih sahabat adat? Ternyata masih hidup ayamnya. Mimin kira sudah dimasak ayamnya. hehe

Baca Juga: Tradisi Unik Suku Dayak Kalimantan

Setelah bahan-bahannya lengkap, akan d/bawa ke dango bersamaan dengan padi hasil panen. Dalam dango d/laksanakan upacara nyangahatn atau d/sebut juga barema. Pada prosesi ini Doa-doa dari tetua adat (pamane) teruntai kepada sang pencipta (Nek Jubata).

Pelaksanaan Ritual

Pada hari pelaksanaan Naik Dango, d/lakukan juga ritual nyangahatn sebanyak 3 kali pada lokasi yang berbeda.

Pertama nyangahatn berlangsung d/pelataran utama (sami) diradank. Nyangahatn ini bertujuan untuk memanggil jiwa atau semangat padi yang belum datang agar menuju ke rumah adat.

Kedua nyangahatn d/lakukan kembali pada lumbung padi atau buluh (langko). Nyangahatn ini bertujuan untuk mengumpulkan semangat padi yang tadinya telah d/panggil agar berkumpul pada sebuah tempat  yaitu lumbung padi atau dango.

Ketiganyangahatn d/lakukan pada tempat penyimpanan beras besar atau biasa d/sebut dengan pandarengan. Tujuan nyangahatn ini adalah untuk memberkati padi agar dapat bertahan dalam waktu yang lama serta tidak cepat habis.

Dari semua proses yang terlaksana, Inti dari tradisi upacara Naik Dango adalah saat d/lakukannya nyangahatn.  Dalam prosesnya terlihat tingkakok nimang padi yang merupakan simbol yang mengingatkan proses turunnya padi dari Jubata kepada manusia.

Dalam tingkakok nimang padi / padi yang merupakan hasil panen setiap tahun akan d/bawa ke lumbung padi dengan iringan tari-tarian. Hal ini merupakan ungkapan kasih dan rasa syukur yang mendalam atas berkat panen yang d/berikan.

Setelah para tetua adat melakukan ritual nyangahatn,  berbagai keluarga Suku Dayak Kanayatn akan melakukan penyimpanan masing masing hasil panen mereka di rumah betang. Para pangayokng atau kontingen menyerahkan hasil panen mereka dengan berbagai ragam atraksi yang d/hantar oleh para pemuda dan tokoh adat setempat.

Nah sahabat adat, jadi dapat disimpulkan bahwa Naik Dango tidak lagi hanya sebagai sarana dalam mempererat silaturahmi antar masyarakat dayak. Tetapi juga berkembang sebagai sebuah event eksotis suku dayak. Karena Naik Dango menjadi satu-satunya peristiwa budaya  Suku Dayak Kanayatn yang d/laksanakan rutin setiap tahunnya.

Junjung Adat…

Jaga Tradisi…

 

 

 

1 thought on “Proses Tradisi Upacara Adat NAIK DANGO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *